Tuesday, June 11, 2013

Katakan Saja “Tidak”




Amsal 1:10,15,16

10   Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut;
15  Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku mereka, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka,
16  karena kaki mereka lari menuju kejahatan dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah.


Bagi anak-anak dan para remaja, pengaruh seorang teman terkadang lebih kuat daripada sumber pengaruh yang lain.  Seringkali mereka mengatakan “saya hanya ikut teman”.  Dari sekedar “ikut teman” akhirnya menjadi sebuah kebiasaan dan kesukaan pribadi. 
Namun sebenarnya kekuatan pengaruh teman ini, bukan hanya milik anak-anak dan remaja.  Perhatikan saja bagaimana orang dewasapun, tanpa sadar sedang menjalankan kehidupan berdasarkan kekuatan maupun tekanan “ikut teman” dalam bentuk yang lebih luas.  Lihat saja, cara kita berpakaian, model rambut, kesukaan yang aneh pada satu jenis merk tertentu yg sedang trend, gadget baru.  Sebagian besar mengikuti, membeli, menggunakan sesuatu tanpa pengertian apakah ini sesuatu yang benar-benar berguna bagi dirinya atau apa ini berhubungan dengan kualitas.
Pada bagian lain, kecenderungan ini juga nampak dalam pilihan bersifat rohani dan moral yang kita lakukan atau tidak kita lakukan.  Kebanyakan hanya bersifat “latah” (ikut-ikutan atau sekedar mengulang apa yang sedang populer dipercayai atau dibicarakan sebagai baik-buruk).  Pada saat “korupsi” dibenci semua teriak menolak koruptor dan meminta agar mereka dipenjarakan bahkan ada yg menyarankan agar dihukum mati saja.   Tidak berbeda jauh seperti ketika beberapa “selebritis” politik menunggu respons “grassroot” sebelum berbicara dan menyatakan pandangan politik.  Jika masyarakat luas tidak menyukainya, maka mereka juga menyatakan tidak menyukainya, jika opini umum menyetujuinya, maka mereka juga menyatakan menyetujuinya.  Sekedar menumpang perahu.  Sikap ini bukan karena pemahaman tentang sesuatu pokok persoalan atau bersifat moral.  Akhirnya terjebak dalam sikap relativitas etika-moral.  Tidak jauh dari sikap tersebut adalah “ketidakjujuran” yang dipelihara atas nama “korps sekantor” atau satu instansi.  “Memang ini salah, tapi semua orang melakukannya”.

Dalam hal ini Firman Tuhan mengajarkan agar kita dengan keteguhan hati menolak bujukan dari orang yang berdosa, untuk terlibat dalam kejahatan. Seperti menolak mengikuti rencana atau strategi menghancurkan seseorang (Amsal 1:11-13: menyangkut nyawa dan harta benda).  Bahkan jangan hidup menurut tingkah laku mereka.  Cara yang paling tepat adalah dengan berkata “tidak” dan tetap hidup berdasarkan kebenaran.

Pdt. Desefentison W. Ngir
Gembala Sidang Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Siloam Tarakan Kalimantan Utara




No comments:

Post a Comment

Katekisasi Baptis: Tanggungjawab Gembala Sidang

Katekisasi Baptis: Tanggungjawab Gembala Sidang Sekian tahun menjadi Gembala Sidang, saya menemukan bahwa para remaja dan pemuda yan...