Thursday, December 12, 2013

Undangan Seminar Suami-Istri Tahun 2014





Tahukah Anda bahwa:
Tahun 2009: Kementerian Agama RI menyebutkan, angka perceraian di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Data terakhir mencatat terjadinya 250 ribu kasus perceraian di Indonesia pada tahun 2009. Angka ini setara dengan 10% dari jumlah pernikahan di tahun 2009 sebanyak 2,5 juta. Jumlah perceraian tersebut naik 50 ribu kasus dibanding tahun 2008 yang mencapai 200 ribu perceraian.
Tahun 2010: Jumlah perceraian di Indonesia semakin meningkat. Data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (Ditjen Badilag MA), kurun 2010 ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian ke Pengadilan Agama se-Indonesia. Angka tersebut merupakan angka tertinggi sejak 5 tahun terakhir.
Data Dari Badan Pusat Statistik:
Tahun 2012: Umur Perempuan  yang paling banyak bercerai:
Usia 24-44 Tahun sekitar 27,78 %; dan Usia 45-59 Tahun sekitar 16 %

Jangan berpikir bahwa hanya karena Anda seorang kristen atau karena sudah semakin dewasa secara usia serta sudah lama menikah , maka pasti tidak akan menghadapi
masalah  pernikahan apalagi perceraian.
 Pernikahan  Kristen bukan hanya soal tidak bercerai, karena banyak Pernikahan Kristen juga yang telah tercabik oleh perceraian Emosional, dimana tidak ada lagi intimasi (keakraban) suami dan istri
Keluarga sakit, Gereja menjadi lemah dan masyarakat menjadi tidak stabil

Karena Itu: 

 Mari bergabung dalam Seminar Pasutri  Kristen:
Keluarga Sehat, Gereja Kuat, Masyarakat  Mantap

(Eksklusif Hanya Bagi yang sudah menikah dan yang akan menikah dalam waktu dekat)

“Orang sering berpikir bahwa kekuatan sebuah pernikahan yang baik
berasal dari suatu campuran orang yang tepat.  Atau jika suatu pernikahan menjadi rusak, kita menyangka mereka adalah dua orang yang tidak tepat untuk bersatu dalam pernikahan.”   Mungkinkah anda juga pernah berpikir seperti itu, mencari seseorang  calon suami atau istri yang cocok?  Atau setelah menikah, anda berpikir bahwa anda telah menikah dengan orang yang salah salah? Apakah memang seperti itu?

Untuk
Memahami kembali apa yang membuat pasangan anda ingin menikah  dengan anda dan mengapa anda dulu memutuskan menikah dengannya? Apa sebenarnya cinta dan  Bagaimana bertumbuh dalam  cinta serta mempertahankan kehangatan cinta bahkan memulihkan cinta dalam pernikahan? 
Apakah kebutuhan utama bagi seorang suami maupun istri  dalam pernikahan dan bagaimana memenuhinya dengan baik dan tepat sehingga pernikahan Anda semakin kuat dan memuliakan Tuhan

Hanya 2 Hari untuk investasi  terbaik sepanjang usia Pernikahan
Jangan Lewatkan Kesempatan ini
Hadirlah bersama pasangan Anda
Di Gereja Kemah Injil Indonesia Tanjung Lapang
19 Februari – 21 Februari 2014
(Rabu, 19 Feb 2013: 19.00-21.00 Pembukaan dan Introduksi Seminar;
Kamis-Jumaat, jam 07.30-12.00/14.00-18.00: Sesi Seminar)
Pembicara: Pdt. Desefentison W. Ngir, M.A dan Vic. Korlien Juansi, S.Th
(Gembala Sidang GKII Siloam/Ketua Biro Pembinaan Warga Jemaat dan Penggembalaan
 GKII Wilayah Kalimantan Utara)

Diselenggarakan oleh:
Komisi Perkaria GKII Daerah Malinau dan
Panitia Penyelenggara Seminar Pasutri GKII Daerah  Malinau-Mentarang
Serta Biro Penggembalaan dan Pembinaan Warga Jemaat GKII Wilayah Kalimantan Utara



Sudah  Terbit
Buku Untuk Pembimbing Pernikahan,
 Calon Pasangan suami-istri  yang akan menikah 
dan Pasangan suami-istri yang telah menikah

Petunjuk lengkap 
bagaimana menyelenggarakan konseling pranikah dan konseling pascanikah

Sebagian besar calon pasangan suami-istri mengikuti konseling pranikah 
namun segera akan melupakan apa yang telah mereka pelajari
padahal setelah menjalani pernikahan, berbagai masalah baru mulai muncul 
namun karena tidak ada konseling lanjutan (pascanikah) sebagian besar akan berakhir kepada percekcokan bahkan perceraian

Buku ini ditulis untuk menjawab kebutuhan akan pentingnya konseling pranikah yang melengkapi calon pasutri agar memiliki ketrampilan pernikahan dan juga  konseling pascapernikahan yang dapat mengatasi masalah-masalah yang timbul.
Dilengkapi 9 Topik Materi Pelajaran Pranikah
dan Kusioner Pranikah dan Pascanikah 

Buku ini digunakan bersama-sama oleh pembimbing dan sekaligus calon pasutri sehingga pertemuan bersifat dialogis-interaktif

Penulis: Desefentison W. Ngir
 Kata Pengantar: Pdt. Dr. Julianto Simanjuntak
 Penerbit :
PT. VISI ANUGERAH, Bandung”
Agustus, 2013

213 Halaman
 Harga untuk Pulau Jawa Rp. 55.000,-

Dapat diperoleh 

diseluruh
 jaringan Toko Buku Rohani : Visipres, Immanuel, Metanoia, Halleluyah,.
TB. Gramedia 
atau
Online: www.visi-bookstore.com
Telp: 081321007070
bb.2228a50a


 

Tuesday, September 24, 2013

tema natal nasional 2013 tema natal PGI tahun 2013

Tema Natal Nasional 2013
Tema Natal Nasional Tahun 2013
Tem Natal PGI Tahun 2013
Tema Natal PGI 2013







Pdt. desefentison W. Ngir

Saturday, July 6, 2013

Mengenang Pak Anggu (Pdt. Dr. Peter Anggu)

Mengenang Pak Anggu (Pdt. Dr. Peter Anggu )

Amsal 10:7  Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat,

Hari ini seluruh  alumni STT Jaffray Makkasar berduka. Karena Pdt. Dr. Peter Anggu telah dipanggil Tuhan  ke surga.
Beberapa waktu yang lalu beliau masih mengikuti even nasional Kemah Injil, seperti Retreat Gembala Kemah Injil di Bali.   Masih segar dalam ingatan, ketika beliau melontarkan sebuah istilah seperti orang "merebus batu", untuk cara mengurus masalah yang tidak pernah tuntas.    Ia memberi  nasehat  untuk menyelesaikan masalah-masalah pokok yang berulangkali disampaikan dalam pertemuan-pertemuan nasional.  Namun seperti belum pernah tuntas dipecahkan.  Nampaknya pesan tersebut adalah salah satu pesan penting beliau yang terakhir.  Selamat jalan pak Anggu.

Pdt. Desefentison W. Ngir
Gereja Kemah Injil Indonesia 

Thursday, June 13, 2013

Kasih dan Penghargaan Dari Allah dan Manusia




Amsal 3:3-4
Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, 4  maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.

Kita terkadang dikejutkan oleh tindakan kejam pelaku kejahatan.  Kekerasan tanpa belas kasihan.  Memang, dua kata tersebut tak akan pernah dapat disandingkan.  Tindakan kekerasan pasti tidak dilahirkan dari hati yang penuh belas kasihan.  Jika manusia membenci perbuatan tanpa belas kasihan (no mercy), maka setiap manusia mengagumi tindakan yang berlandaskan belas kasihan (mercy). 

Demikian juga, ketidaksetiaan seseorang dalam bidang apapun selalu menuai kecaman.  Namun sifat kesetiaan diagungkan.  Bahkan ketika banyak orang gagal untuk setia, tidak mengurangi betapa bernilainya kesetiaan dalam semua aspek kehidupan.

Sebagaimana kalung dipakai sebagai sebuah perhiasan yang berharga dan selalu dipakai, maka seharusnyalah kasih (mercy) nampak jelas dalam tindakan setiap hari.
Sebagaimana “hati “(heart:jantung) menjadi pusat kehidupan, maka kesetiaan kepada kebenaran menjadi penggerak kehidupan secara penuh.

Tidak selalu apa yang dihargai manusia adalah sesuatu yang berharga di mata Allah, namun dua hal inilah yang berharga dalam pandangan Allah dan juga bagi manusia,  atau inilah jalan memperoleh penghargaan (anugerah:grace) dan penghargaan dalam pandangan Allah dan manusia yaitu Kasih dan Kesetiaan. 

Pdt. Desefentison W. Ngir
Gembala Sidang Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Siloam Tarakan Kalimantan Utara

Wednesday, June 12, 2013

Penjaga Keadilan




 Amsal 2:6  Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. 7  Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, 8  sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia.

Sebagian orang merasa terpanggil untuk menjadi aktivis lingkungan, bergabung dengan sebuah gerakan bahkan NGO tertentu, untuk menyuarakan kepeduliaan terhadap konservasi alam.  Sebagian lagi pejuang HAM, melalui advokasi masyarakat maupun anggota masyarakat yang  dianggap telah terpinggirkan karena alasan politik, agama bahkan kemiskinan. 

Pada dasarnya Kitab Amsalpun memberikan sebuah petunjuk yang kuat bahwa kepeduliaan sosial bahkan keterlibatan dalam upaya kemanusiaan semacam itu suatu tindakan yang benar. Amsal  24:11  Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkan orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan. 12  Kalau engkau berkata: "Sungguh, kami tidak tahu hal itu!" Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?  Namun apabila hal ini dilakukan tidak atas dasar pengenalan akan TUHAN, maka para pejuang keadilan seperti itu akan terjebak dalam konsep dan tindakan yang tidak benar, seperti merelatifkan apa yang mutlak dari TUHAN.  Lihat saja, bagaimana kebebasan bagi semua orang diperluas menjadi “ijin” bagi semua tindakan tidak sesuai moral kristen, mengenai seksualititas dan pernikahan.   Diberbagai negara yang dulunya sangat kuat memegang kebenaran mengenai sistem pernikahan monogami (satu istri dan satu suami) dan Heteroseksual (Laki dengan Perempuan) telah melegalkan pernikahan sejenis (Pasangan Homoseksual dan Lesbian). 

Jadi barangsiapa menjadi Pejuang Keadilan, tanpa pengakuan terhadap Hukum dari  Sang Penjaga Jalan Keadilan, maka sebenarnya ia sedang menjadi penantang TUHAN Semesta Alam.  Jika berpikir sedang menjaga dan memelihara sesuatu, sesungguhnya ia sedang merusakkan tatanan moral yang lebih besar.

Amsal  2:20-22

20  Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar.
21  Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ, 22  tetapi orang fasik akan dipunahkan dari tanah itu, dan pengkhianat akan dibuang dari situ.

Pdt. Desefentison W. Ngir
Gembala Sidang Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Siloam Tarakan Kalimantan Utara

Tuesday, June 11, 2013

Katakan Saja “Tidak”




Amsal 1:10,15,16

10   Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut;
15  Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku mereka, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka,
16  karena kaki mereka lari menuju kejahatan dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah.


Bagi anak-anak dan para remaja, pengaruh seorang teman terkadang lebih kuat daripada sumber pengaruh yang lain.  Seringkali mereka mengatakan “saya hanya ikut teman”.  Dari sekedar “ikut teman” akhirnya menjadi sebuah kebiasaan dan kesukaan pribadi. 
Namun sebenarnya kekuatan pengaruh teman ini, bukan hanya milik anak-anak dan remaja.  Perhatikan saja bagaimana orang dewasapun, tanpa sadar sedang menjalankan kehidupan berdasarkan kekuatan maupun tekanan “ikut teman” dalam bentuk yang lebih luas.  Lihat saja, cara kita berpakaian, model rambut, kesukaan yang aneh pada satu jenis merk tertentu yg sedang trend, gadget baru.  Sebagian besar mengikuti, membeli, menggunakan sesuatu tanpa pengertian apakah ini sesuatu yang benar-benar berguna bagi dirinya atau apa ini berhubungan dengan kualitas.
Pada bagian lain, kecenderungan ini juga nampak dalam pilihan bersifat rohani dan moral yang kita lakukan atau tidak kita lakukan.  Kebanyakan hanya bersifat “latah” (ikut-ikutan atau sekedar mengulang apa yang sedang populer dipercayai atau dibicarakan sebagai baik-buruk).  Pada saat “korupsi” dibenci semua teriak menolak koruptor dan meminta agar mereka dipenjarakan bahkan ada yg menyarankan agar dihukum mati saja.   Tidak berbeda jauh seperti ketika beberapa “selebritis” politik menunggu respons “grassroot” sebelum berbicara dan menyatakan pandangan politik.  Jika masyarakat luas tidak menyukainya, maka mereka juga menyatakan tidak menyukainya, jika opini umum menyetujuinya, maka mereka juga menyatakan menyetujuinya.  Sekedar menumpang perahu.  Sikap ini bukan karena pemahaman tentang sesuatu pokok persoalan atau bersifat moral.  Akhirnya terjebak dalam sikap relativitas etika-moral.  Tidak jauh dari sikap tersebut adalah “ketidakjujuran” yang dipelihara atas nama “korps sekantor” atau satu instansi.  “Memang ini salah, tapi semua orang melakukannya”.

Dalam hal ini Firman Tuhan mengajarkan agar kita dengan keteguhan hati menolak bujukan dari orang yang berdosa, untuk terlibat dalam kejahatan. Seperti menolak mengikuti rencana atau strategi menghancurkan seseorang (Amsal 1:11-13: menyangkut nyawa dan harta benda).  Bahkan jangan hidup menurut tingkah laku mereka.  Cara yang paling tepat adalah dengan berkata “tidak” dan tetap hidup berdasarkan kebenaran.

Pdt. Desefentison W. Ngir
Gembala Sidang Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Siloam Tarakan Kalimantan Utara